Selasa, 14 Februari 2012

*Penentuan Nilai pH Larutan Asam dan Basa*


BAB I
PENDAHULUAN
1.1  Latar Belakang
Dalam kehidupan sehari-hari, kita banyak menggunakan zat yang bersifat asam, basa, maupun netral. Contoh zat-zat asam atau mengandung asam adalah larutan cuka, air aki, dan jeruk. Contoh zat-zat basa atau yang mengandung basa adalah air kapur, sabun, larutan soda, dan detergen. Contoh zat-zat yang bersifat netral atau mengandung zat netral antara lain gula, garam dapur dan alkohol.
Salah satu cara yang paling sederhana untuk menentukan suatu zat bersifat asam atau basa adalah dengan mencicipinya. Ketika mencicipi rasa jeruk maka akan terasa asam karena jeruk mengandung asam. Sedangkan ketika mencicipi sampo maka akan terasa pahit karena sampo mengandung basa. Namun sangat tidak baik apabila untuk mengenali sifat asam atau basa dengan mencicipinya karena mungkin saja zat tersebut mengandung racun atau zat yang berbahaya.
Menurut Arrhenius, asam yang dilarutkan ke dalam air akan melepaskan ion H+. Dengan demikian, dapat dikatakan bahwa jumlah ion H+ yang ada dalam larutan dapat digunakan untuk meyatakan derajat keasaman. Berdasarkan kenyataan itu, seorang kimiawan Denmark yang bernama Sorensen (1888-1939) mengusulkan konsep pH untuk menyatakan konsentrasi ion H+. Huruf p di depan huruf H berasal dari kata potenz yang berarti pangkat atau eksponen. Oleh karena itu, pH dapat dikatakan sebagai pangkat hidrogen atau eksponen hidrogen. Pada percobaan kali ini, akan menguji pH dari beberapa larutan dengan menggunakan kertas indikator universal.

1.2  Rumusan Masalah
Berdasarkan penelitian dan percobaan yang telah dilakukan, maka beberapa permasalahan dalam penelitian atau percobaan Kimia mengenai Nilai pH Larutan Asam dan Basa ini antara lain :
Ø  Bagaimanakah perbedaan nilai pH larutan asam dengan larutan basa?
Ø  Bagaimanakah pengaruh pengenceran terhadap besar pH larutan asam dan basa kuat ?
Ø  Bagaimanakah pengaruh pengenceran terhadap besar pH larutan asam dan basa lemah ?
1.3  Maksud dan Tujuan Percobaan
1.3.1     Maksud Percobaan
Maksud dari percobaan penentuan nilai pH larutan asam dan basa adalah untuk mengukur pH beberapa larutan asam atau basa kuat dan lemah yang konsntrasinya sama dengan menggunakan alat bantu kertas indikator universal.
1.3.2     Tujuan Percobaan
Tujuan dari percobaan penentuan nilai pH larutan asam dan basa adalah untuk mengetahui, memahami, dan mempelajari serta mengukur pH larutan asam dan basa baik kuat maupun lemah. 
1.4  Manfaat
Beberapa manfaat yang bisa kita peroleh dari percobaan/penelitian yang kita lakukan yaitu sebagai berikut.
v  Bagi siswa
Manfaat bagi siswa dengan adanya penelitian/percobaan ini yaitu pengetahuan siswa menjadi lebih bertambah akan larutan asam dan basa beserta nilai pH masing-masing larutan tersebut.
v  Bagi guru
Manfaat bagi guru melalui penelitian/percobaan ini yaitu guru dapat mengetahui tingkat pemahaman siswa dalam menentukan nilai pH larutan asam dan basa baik itu kuat maupun lemah.
BAB II
METODE KERJA
            2.1 Alat dan Bahan
                        2.1.1 Alat
a)    3 buah tabung reaksi.
b)    1 buah pipet tetes.
c)    1 buah gelas ukur.
d)    1 buah gelas kimia. 
e)    12 lembar kertas indikator universal.
                        2.1.2 Bahan
a)    Larutan HCl 0,1 M
b)    Larutan CH3COOH 0,1 M
c)    Larutan NaOH 0,1 M
d)    Larutan NH4OH 0,1 M
e)    Aquades secukupnya.
                        2.1.3 Cara Kerja
v  Uji nilai pH untuk larutan HCl
1.    Siapkan 3 tabung reaksi yang bersih dan kering.
2.    Beri label pada ketiga gelas itu dengan angka 1,2, dan 3.
3.    Masukkan 10 ml larutan HCl 0,1 M ke dalam tabung reaksi 1.
4.    Buatlah larutan HCl dengan konsentrasi 0,01 M ke dalam tabung reaksi 2 dengan mengambil 1 ml larutan HCl 0,1 M kemudian diencerkan.
5.     Buatlah larutan HCl dengan konsentrasi 0,001 M ke dalam tabung reaksi 3 dengan mengambil 1 ml larutan HCl 0,01 M kemudian diencerkan.
6.    Ukurlah pH ketiga larutan itu dengan kertas indikator universal.
v  Uji nilai pH untuk larutan CH3COOH
1.    Siapkan 3 tabung reaksi yang bersih dan kering.
2.    Beri label pada ketiga gelas itu dengan angka 1,2, dan 3.
3.    Masukkan 10 ml larutan CH3COOH 0,1 M ke dalam tabung reaksi 1.
4.    Buatlah larutan CH3COOH dengan konsentrasi 0,01 M ke dalam tabung reaksi 2 dengan mengambil 1 ml larutan CH3COOH 0,1 M kemudian diencerkan.
5.     Buatlah larutan CH3COOH dengan konsentrasi 0,001 M ke dalam tabung reaksi 3 dengan mengambil 1 ml larutan CH3COOH 0,01 M kemudian diencerkan.
6.    Ukurlah pH ketiga larutan itu dengan kertas indikator universal.
v  Uji nilai pH untuk larutan NaOH
1.    Siapkan 3 buah tabung reaksi yang bersih dan kering.
2.    Beri label pada ketiga gelas itu dengan angka 1,2, dan 3.
3.    Masukkan 10 ml larutan NaOH 0,1 M ke dalam tabung reaksi 1.
4.    Buatlah larutan NaOH dengan konsentrasi 0,01 M ke dalam tabung reaksi 2 dengan mengambil 1 ml larutan NaOH 0,1 M kemudian diencerkan.
5.     Buatlah larutan NaOH dengan konsentrasi 0,001 M ke dalam tabung reaksi 3 dengan mengambil 1 ml larutan NaOH 0,01 M kemudian diencerkan.
6.    Ukurlah pH ketiga larutan itu dengan kertas indikator universal.
v  Uji nilai pH untuk larutan NH4OH
1.    Siapkan 3 buah tabung reaksi yang bersih dan kering.
2.    Beri label pada ketiga gelas itu dengan angka 1,2, dan 3.
3.    Masukkan 10 ml larutan NH4OH 0,1 M ke dalam tabung reaksi 1.
4.    Buatlah larutan NH4OH dengan konsentrasi 0,01 M ke dalam tabung reaksi 2 dengan mengambil 1 ml larutan NH4OH 0,1 M kemudian diencerkan.
5.     Buatlah larutan NH4OH dengan konsentrasi 0,001 M ke dalam tabung reaksi 3 dengan mengambil 1 ml larutan NH4OH 0,01 M kemudian diencerkan.
6.    Ukurlah pH ketiga larutan itu dengan kertas indikator universal.
BAB III
HASIL PERCOBAAN
1.1  Larutan HCl
*      Pengenceran HCl :
V1 x M1 = V2 x M2
V1 x 2    = 500 x 0,1
V1          = 50/2
V1          = 25 ml à volume air yang dibutuhkan yaitu sebesar 475 ml.
*      Tabel hasil penelitian :
No.
Konsentrasi Asam/Basa (M)
pH Larutan
1.
0,1
1
2.
0,01
2
3.
0,001
3

*      Gambar hasil pengamatan :


1.2  Larutan CH3COOH
*      Pengenceran CH3COOH :
V1 x M1 = V2 x M2
V1 x 13  = 500 x 0,1
V1          = 50/13
V1          = 4 ml à volume air yang dibutuhkan yaitu sebesar 496 ml.
*      Tabel hasil penelitian :
No.
Konsentrasi Asam/Basa (M)
pH  larutan
1.
0,1
3
2.
0,01
4
3.
0,001
5

*      Gambar hasil pengamatan :



1.3  Larutan NaOH
*      Berat NaOH :
W = M x Mr x V
W = 0,1 M x 40 x 0,5 liter
W = 2 gr, kemudian dilarutkan dalam 500 ml aquades.
*      Tabel hasil penelitian :
No.
Konsentrasi Asam/Basa (M)
pH  larutan
1.
0,1
13
2.
0,01
12
3.
0,001
10

*      Gambar hasil pengamatan :

1.4  Larutan NH4OH
*      Tabel hasil penelitian :
No.
Konsentrasi Asam/Basa (M)
pH  larutan
1.
0,1
10
2.
0,01
9
3.
0,001
8

*      Gambar hasil pengamatan :

BAB IV
PEMBAHASAN
4.1 Asam
Asam (yang sering diwakili dengan rumus umum HA) secara umum merupakan senyawa kimia yang bila dilarutkan dalam air akan menghasilkan larutan dengan pHlebih kecil dari 7. Dalam definisi modern, asam adalah suatu zat yang dapat memberi proton (ion H+) kepada zat lain (yang disebut basa), atau dapat menerima pasangan elektron bebas dari suatu basa. Suatu asam bereaksi dengan suatu basa dalam reaksi penetralan untuk membentuk garam. Contoh asam adalah asam asetat (ditemukan dalam cuka) dan asam sulfat (digunakan dalam baterai atau aki mobil). Asam umumnya berasa masam, tapi cairan asam pekat sangat berbahaya dapat merusak kulit dan hati-hati mata, jika terpercik asam pekat bisa berakibat kebutaan. Jika kena asam pekat harus langsung dicuci dengan air mengalir sampai benar-benar bersih.      
4.2 Basa
           Definisi umum dari basa adalah senyawa kimia yang menyerap ion hydronium ketika dilarutkan dalam air.Basa adalah lawan (dual) dari asam, yaitu ditujukan untuk unsur/senyawa kimia yang memiliki pH lebih dari 7. Kostik merupakan istilah yang digunakan untuk basa kuat. jadi kita menggunakan nama kostik soda untuk natrium hidroksida (NaOH) dan kostik postas untuk kalium hidroksida (KOH). Basa dapat dibagi menjadi basa kuat dan basa lemah. Kekuatan basa sangat tergantung pada kemampuan basa tersebut melepaskan ion OH dalam larutan dan konsentrasi larutan basa tersebut.          
4.3 pH
     pH adalah derajat keasaman yang digunakan untuk menyatakan tingkat keasaman atau kebasaan yang dimiliki oleh suatu larutan. Ia didefinisikan sebagaikologaritma aktivitas ion hidrogen (H+) yang terlarut. Koefisien aktivitas ion hidrogen tidak dapat diukur secara eksperimental, sehingga nilainya didasarkan pada perhitungan teoritis. Skala pH bukanlah skala absolut. Ia bersifat relatif terhadap sekumpulan larutan standar yang pH-nya ditentukan berdasarkan persetujuan internasional.[1]
     Konsep pH pertama kali diperkenalkan oleh kimiawan Denmark Søren Peder Lauritz Sørensen pada tahun 1909. Tidaklah diketahui dengan pasti makna singkatan "p" pada "pH". Beberapa rujukan mengisyaratkan bahwa p berasal dari singkatan untuk powerp[2] (pangkat), yang lainnya merujuk kata bahasa Jerman Potenz (yang juga berarti pangkat)[3], dan ada pula yang merujuk pada kata potential. Jens Norby mempublikasikan sebuah karya ilmiah pada tahun 2000 yang berargumen bahwap adalah sebuah tetapan yang berarti "logaritma negatif"[4].
     Air murni bersifat netral, dengan pH-nya pada suhu 25 °C ditetapkan sebagai 7,0. Larutan dengan pH kurang daripada tujuh disebut bersifat asam, dan larutan dengan pH lebih daripada tujuh dikatakan bersifat basa atau alkali. Pengukuran pH sangatlah penting dalam bidang yang terkait dengan kehidupan atau industri pengolahan kimia seperti kimiabiologikedokteranpertanianilmu panganrekayasa (keteknikan), dan oseanografi. Tentu saja bidang-bidang sains dan teknologi lainnya juga memakai meskipun dalam frekuensi yang lebih rendah.
BAB V
PENUTUP
5.1 Kesimpulan
Berdasarkan penelitian/percobaan yang telah dilakukan, maka kita dapat menyimpulkan kesimpulan yaitu sebagai berikut.
*      Nilai pH dari larutan asam kurang dari 7.
*      Nilai pH larutan basa lebih dari 7.
*      Nilai pH larutan netral yaitu 7.
5.2 Saran
Dalam melakukan kegiatan penelitian/percobaan ini harus lebih ditingkatkan terutama dalam bidang ketersediaan alat bantu penelitian/percobaan. Dengan lengkap dan memadainya alat-alat bantu penelitian/percobaan maka konsentrasi siswa akan lebih terfokuskan sehingga hasil yang ingin dicapai selama penelitian/percobaan akan maksimal dan sesuai dengan yang diharapkan selain itu dapat memberi manfaat dan pengetahuan yang lebih banyak mengenai penelitian/percobaan. 

DAFTAR PUSTAKA

Susilowati, Endang., Theory and Application of Chemistry, Bilingual, Jakarta.